Halaman

Jumat, 12 November 2021

Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh merupakan nabi ke-3. Beliau keturunan ke-10 dari Nabi Adam. Nuh hidup di tengah kaumnya yang menyembah berhala.

Mereka percaya berhala-berhala itu dapat memberikan pertolongan dan apa pun yang mereka minta.

Allah mengutus Nabi Nuh as sebagai rasul dengan menganugerahkan kecerdasan, lidah yang fasih, lemah lembut, pandai bersyukur, bijaksana, mahir berargumentasi dan memiliki kesabaran yang tinggi.

Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk menyembah Allah. Namun, kaum nabi Nuh menolak dakwah beliau, kecuali hanya sedikit yang mau mengikutinya.

Kaum kufur yang tidak mau beriman terus saja membangkang dan mendebat dakwah Nabi Nuh.

“Bagaimana mungkin kami menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhanmu dan para pengikutmu. Kami orang-orang terhormat, sedangkan mereka orang-orang miskin dan bodoh.” ujar para pembesar kaum kufur. Mereka sangatlah sombong.

Mendengar bantahan itu, Nabi Nuh menjawab.” Agama yang kubawa tidak membedakan manusia karena kedudukannya. Kita semua sama di sisi Allah.”

“Jika kamu ingin kami mengikutimu, tinggakanlah pengikutmu yang miskin dan bodoh itu, lalu bergabunglah bersama kami.” ucap para saudagar sombong itu kemudian.

Mendengar permintaan itu, Nabi Nuh menolak. Bagi Nabi Nuh, orang-orang yang lemah yang mau beriman jauh lebih baik daripada orang-orang terhormat, namun hatinya sekeras batu untuk menerima kebenaran firman Tuhan.

Perdebatan itu terus terjadi sepanjang Nabi Nuh bedakwah yaitu selama 950 tahun.

Lalu, kaumnya menantang,” Hai Nuh, kita telah lama saling berbantahan. Datangkanlah azab yang kau ancamkan jika memang kamu memang benar.”

Semula, Nabi Nuh bersabar atas kelakuan kaumnya. Bahkan salah satu putra beliau sendiri, Kan’an, tidak mau beriman. Namun, semakin hari Nabi Nuh semakin sedih. Lalu Allah menghibur belaiu dengan mengatakan bahwa hidayah milik Allah, bukan milik Nabi Nuh.

“Buatlah perahu dengan pengawasan dan petunjuk-ku dan janganlah kau bicarakan orang-orang zalim itu dengan-ku. Mereka semua akan ditenggelamkan.” Allah berfirman kepada Nabi Nuh.

Nabi Nuh dan pengikutnya mematuhi perintah itu. Mereka membuat bahtera yang besar. Kaum kufur kembali berulah. Mereka mencemooh Nabi Nuh dan pengikutnya.

“Hai Nuh, kemarin engkau mengaku dirimu nabi. Sekarang kau menjadi tukang kayu.” ejek mereka.

“Apa kau tidak waras lagi, wahai Nuh? Dimanakah akan kau jalankan bahteramu, sedang sekarang musim kemarau? Apakah kau akan menerbangkannya ke angkasa?” ejek yang lain.

Nabi Nuh menjadi bahan tertawaan. Namun, beliau tetap bersabar dan melanjutkan pekerjaanya.

Azab yang dijanjikan Allah benar-benar tiba. Mendung hitam bergulung-gulung di langit. Petir menggelegar menyambar-nyambar. Lalu, hujan turun dengan sangat deras. Sumber-sumber air pun memuntahkan airnya hingga perlahan-lahan daratan tenggelam. Nabi Nuh dan kaumnya beserta binatang-binatang naik ke bahtera.

Ketika air semakin tinggi, Nabi Nuh melihat Kan’an sedang berenang ke sana kemari untuk menyelamatkan diri.

“Anakku naiklah ke atas perahu janganlah engkau bersama dengan orang-orang kafir.” Ajak Nabi Nuh.

“Tinggalkan aku! Aku akan berlindung di gunung yang tinggi.” jawab Kan’an.

“Anakku, hari ini tidak ada yang bisa melindungimu dari azab kecuali Allah.” ujar Nabi Nuh.

Namun Kan’an tidak mau mendengar nasihat ayahnya.  Dia naik keatas gunung agar terlindung dari air bah. Namun usahanya hanya sia-sia karena air pun menggulung gunung yang di tuju Kan’an.

Alangkah sedih hati Nabi Nuh melihat nasib Kan’an dan juga kaumnya. Degan hati yang pilu, beliau bersama kaum beriman berlayar meninggalkan tanah mereka. Ketikavbanjir telah surut, bahtera Nabi Nuh berlabuh di gunung jud, di wilayah Armenia.

Nabi Nuh beserta ketiga putranya yang lain yaitu Sam, Ham dan Yafitz selamat.

Kelak, ketiganya menurunkan warna kulit yang berbeda, yaitu putih, hitam dan kecoklatan.

Ditempat itulah Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman turun dan melanjutkan kehidupan yang baru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar