Halaman

Rabu, 21 Maret 2012

Terima Kasih Kawan !

Oleh Juanda
 
MINGGU pagi, 26 Desember 2004 tujuh tahun yang lalu masih begitu segar dalam ingatan semua orang termasuk saya. Kala itu saya masih duduk di semester empat  FKIP Unsyiah. Untuk mahasiswa tentunya hari Minggu merupakan hari bebas tugas belajar.
Setelah shalat Shubuh, saya bergegas menuju tempat tidur untuk kembali merebahkan tubuh karena masih merasa mengantuk. Tetapi beberapa saat kemudian rasa kantuk itu hilang secara tiba-tiba, kemudian saya mencoba menghidupkan salah satu saluran radio yang bernuansa lagu-lagu aneuk nangroe sembari mengharap bisa memecamkan mata kembali dengan melewati senja dipagi yang cerah itu. Namun rasa kantuk itu juga tidak datang untuk kesekian kalinya.

Hanyut dengan simponi  lagu-lagu aneuk nanggroe, tiba-tiba ranjang saya bergoyang dan lampu penerang kamar berayun dengan sendirinya dan spontan saya berteriak….gempa….gempa…….dengan reflek teman saya yang sekamar terbangun dan kami berlari keluar rumah menyelamatkan diri.

Gempa terus bergoyang dan berayun tanpa arah, kami duduk beralaskan tanah dengan tidak berhentinya mengucapakan Asma Allah. Tiba-tiba seorang tetangga berteriak untuk menjauh dari depan kos karena ada pohon mangga besar yang dikhawatirkan akan tumbang ke arah kami karena kerasnya goyangan gempa. Tanpa dikomandoi oleh teman-teman yang lain  kami berlari ke lapangan, yang kebetulan tidak jauh dari rumah kos kami yang beralamat Di Desa Tanjung selamat No. 13 Darussalam.

Kami sekosan semuanya  berasal dari berbagai daerah, Saya sendiri berasal dari Idi Rayeuk Aceh Timur,  Fahri berasal dari Panga Aceh Jaya terakhir bekerja di KUA Aceh Jaya, Juhri dan Mujahiddin berasal dari Bambi Sigli, Hilmi Wilminar berasal dari Panton Labu Labu terakhir menjadi salah satu guru SMA di Aceh Utara, Syaubari berasal Tijue Sigli, Memet Rijal berasal dari Tangse Sigli terakhir bekerja Di Kantor Gubernur Aceh, Jafaruddin berasal dari Meureudu terakhir menjadi pengusaha muda sukses di daerah tinggalnya dan Alm. Reza Sadri Hs (Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fuanhum) berasal dari Lueng Putu Pidie Jaya terakhir  berada di Lam Pulo saat terjadi tsunami.

Setelah gempa berhenti, saya dan teman-teman yang lain merasakan pening dan berayun dalam perjalanan menuju kemabli ketempat kost, di teras rumah saya dan teman-teman beristirahat sejenak dan belum berani memasuki rumah karena gempa sesekali masih terjadi.

Beberapa saat saya berada di luar rumah, tiba-tiba jalan di depan rumah saya berlarian orang-orang dengan meneriakan ie laot ka di ek……ie laot ka di ek!……muncul dalam pikiran saya hal yang tidak mungkin terjadi dan belum pernah saya dengar sebelumnya. Dengan cepat saya dan teman lainya masuk kedalam rumah untuk mengambil barang-barang yang bisa diselamatkan, dalam keadaan yang panik sempat terlintas dalam pikiran untuk hanya menyelamatkan ijazah saya dari SD, SMP dan SMA yang saya simpan dalan satu bundel.

Saya dan teman yang lainnya secepat kilat berlarian dengan menyelamatkan diri ke Masjid Jami Kampus Darussalam dengan berpesan ke teman yang satu ke teman yang lainnya agar berhati-hati dan kalau sudah sampai di Masjid untuk bisa berkumpul kembali bersama teman-teman kos.

Di dalam pelarian menuju ke masjid, saya sempat melirik kekiri dan kekanan melihat orang-orang menangis baik itu wanita, anak-anak, dan bayi dalam gendongan Ibunya, terbesit dalam pikiran saya inilah hari terakhir dunia ini.

Di Masjid Kampus Darusslam suara Yassin menggema dan asma Allah membahana melalui microfon membuat hati saya menciut dan akhirnya meneteskan air mata bersama masyarakat lainya yang berkumpul di masjid tersebut, dengan masih berspekulasi bahwa inilah hari terakhir dunia ini.

Sekitar jam 09:00 pagi, saya mulai mencari teman yang lainya si sekeliling masjid dan Alhamdulillah Kami berkumpul kembali si areal seputaran masjid dengan perasaan saling mengkhawatirkan dan mencemaskan keluarga masing-masing di kampung halaman.  Saya dan teman yang lainya pada saat itu bagai satu keluarga dengan saling memperingati, menjaga dan melindungi antara satu sama lain agar tidak terpisah, diantara teman yang lainya saya, Fahri dan Mujahidin yang muda sementara yang lainnya lebih tua dari kami.

Setelah beberapa saat kami berkumpul, beberapa teman yang lainya mencarikan makanan, kebetulan saya dan lainnya belum sarapan pagi. Sekembali mereka dibawakan beberapa bungkus Mi Instan dengan  satu botol air mineral, mulailah saya dan teman lainya menyantap Mi Instan Mentah dengan cara menggilir setiap perbungkus begitu juga denga air mineral, kami bagi beberapa teguk untuk setiap orang. Nah, di sinilah muncul lagi kekeluargaan itu dengan ikatan emosional yang sangat tinggi antara satu sama lain dan kenangan itu masih begitu berbekas dalam memori ingatan saya.

Jam telah menunjukan pukul 10:00, orang-orang mulai mengusung jenasah korban-korban tsunami kepekarangan mesjid dan Perpustakaan Unsyiah, dalam benak saya, bagaimana sebenarnya air laut itu naik kedarat bisa mematikan manusia. Pada saat itu saya belum memiliki gambaran mengenai dahsyatnya air bah yang hitam pekat itu.

Mayat-mayat terus bertambah di sekeliling masjid sampai dengan sore hari, saya melihat tim SAR begitu sibuk saat itu.

Saya dan teman lainya menginap semalam di masjid kampus dengan berharap besok bisa melihat mentari pagi. Tepatnya Senin pagi kala itu, Saya dan teman lainya akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Walaupun transportasi saat itu masih lumpuh. Akhirnya saya dan teman lainya berpisah dengan penuh keharuan dan di akhir pertemuan tersebut untuk saling mengabari bila sudah di kampung halaman masing-masing. Terima kasih teman-teman.

Dimuat di http://aceh.tribunnews.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar